Penasakti.com // Sukabumi – Tugu Palagan Pasir karang ini salah satu tugu peringatan yang mengkisahkan masyarakat Surade khususnya dan masyarakat Pajampangan dalam perlawanan memperjuangkan serta memperhankan kemerdekaan.

Tugu ini dibangun diatas tanas seluas ±70 miter persegi,dan tinggi ±6-7 miter, berlokasi di Kampung Pasirkarang – Cisaat RT. 004 / RW.002 Desa Gunungsungging Kec Surade Kab. Sukabumi.

TUGU tersebut diatasnya terdapat lambang Bambu Runcing dan senjata api yang diikat lambang bendera Merah Puti, Menurut Bapak ACHJA ( baca, Ahya, ) lahir tahun 1928. Beliau adalah salah satu Pelaku Sejarah,dan juga sebagai anggota DHC (Dewan Harian Nasional Angkatan ’45 Cabang Surade) Markaz Ranting Surade, dengan nomor anggota N.R.I.20952811631.
Sebagai Pelaku Sejarah beliau menuturkan pengalamannya, bahwa tahun 1943 beliau pernah dilatih menjadi anggota Sainendan, karena saat itu berusia 15 tahun ( Sainendan berusia 14-22 ) Sebagian masyarakat Surade yang berusia lebih dari 25 sampai 35 tahun tahun dilatih menjadi Kibodan yaitu dilatih semi militer Jepang oleh Yuyun Rupendi, yang kemudian tahun 1945 dibentuk Kesatuan Laskar Rakyat diantara tokohnya yaitu Pk Ganda Sasmita, Marjuki, Yusuf yang saat itu dibawah pimpinan S.Waluyo hingga tahun 1947 dimana bersamaan saat Belanda datang ke Markaznya di Jampangkulon yaitu di Markaznya di Panglayungan sekitar Masjid Agung Jampangkulon.
Dengan gelagat demikian maka para pemuda segera secara serentak membentuk 3 Seksi, 3 Kompi, 3 Bataliyon (Bataliyon Patenggang, Panjalu, Bagendit), Brigade, dan Divisi Bambu Runcing dibawah pimpinan Cece Subrata dan D. SUHENDAR.
Selanjutnya Uci Sanusi dan Pk Ekong bermarkas di Surade dibawah komandonya Haerul Saleh. Ketika TRI dipimpin Kapten Pendi, kompi satu Sariki bermarkas di Sodong dan kompi dua dipimpin Letnan Saptaji dgn komandan Rustaman Rustaman bermarkas di Hajipura Cikanyere.
Kemudian tahun 1948 TRI Hijrah ke Yogyakarta, perjuangan diJampangkulon dipimpin Cece Subrata dan D.Sukendar. Awal pertempuran sengit dimulai ketika datangnya militer NICA beriring iringan dari Sukabumi menuju Ujung genteng, maka ketika tiba di Jembatan terjadilah peristiwa pertempuran sengit di Cikarang -Sasak, kemudian Militer Belanda terus menyerang sehingga sambil bertahan mundur, kami menyerang hingga Babakan Kondang.
Dari sini kami tahu arti penyebaran dan penyerangan sayap kiri,sayap kanan,dan sambil waspada kami terus mengejar musuh yang datang secara beruntun itu.
Senjata kami cuma berbekal 1 stand gun, golok, bambu runcing ketepel / bandring, bom batok Cihaur, dorlok, cuplis, Belanda tak segan menculik serta membakar rumah penduduk,banyak korban.
Kami berperang tidak saja melawan Belanda tetapi juga pribumi dimana berkecamuknya menghadapi DI -TII.
Kami teringat waktu pertempuran menyerang Markaz Belanda di Citangkar 2 kali gabungan kesatuan Bn.IX dan Bn.III/C.menelan korban dan luka-luka.
Pertempuran di Cirangkong Surade oleh kesatuan Bn.III/C bersama ALRI, sehingga pihak kami sdr. Eeng meninggal dari ALRI dan senjatanya Jengel Riffel dirampas Belanda.
Pertempuran di Pasirtamiang Surade bersama kompi III Bn.III/C. menghadapi Patroli Belanda yang banyak korban dan terluka.
Pertempuran di Cigodobros Surade, Patroli Gabungan Kompi III Bn.III/C, serta pasukan Bn.X.pimpinan Kapten Rojak melawan Belanda yg menelan banyak korban dari Belanda Penyerangan ke markasnya C.P. (Civile Police) yaitu antek anteknya Belanda di Cimahi Surade oleh Kompi III Bn.III/C sehingga beberapa orang CP.mati dan banyak pula yg terluka.
Pertempuran dengan pasukan Belanda di Pasirgede desa Cibodas Cibitung oleh Kompi III dan Kompi IV Bn.III/C,banyak korban dari mereka. Pertempuran di Mareleng desa Pasirpanjang Ciracap pihak Belanda 20 orang mati selain luka berat dan ringan.
Pertempuran di bulan Maret 1948 menyerang NICA (Netherland Indisch Civil Administration) Pertempuran di bulan Maret 1948 menyerang NICA (Nederlandsch Indische Civile Administratie) yang dibentuk 3 April 1944 di Australia, oleh Douglas Mac Arthur) Tentara NICA yang sedang patroli di kawasan Jembatan Cicurug Cikaso Cibitung, yang akan menuju ke Perkebunan Cijaksi serta ke daerah Tegal Buleud.
Ini menyedihkan karena seorang sahabat dari pasukan Kompi III mati ditembak musuh,pihak kita mundur karena kehabisan peluru senjata bren Gun.
Selanjutnya penyerangan markas CP di Ciemas dgn kekuatan 70 orang pimpinan Cece Subrata selaku komandan Bn.III/C, dan Ganda Sasmita.
Kekuatan pihak CP di Ciemas ± 30 orang (1 peleton) penyerangan ini disebut SERANGAN FAJAR. karena dilakukan jam 05.pagi, pihak CP mati 11 orang, sedang pihak kami dapat merampas 11 pucuk senjata LE, sedang pihak kami satu orang yaitu Sdr. Bunyamin, terluka parah akibat lemparan granat.
PERTEMPURAN DI JAGAMUKT / PASIRKARANG TANGGAL 2 JANUARI 1948 SEBELUM HIJRAH KE YOGYAKARTA MERUPAKAN PERTEMPURAN TERBESAR DI SURADE.
Pihak Belanda menggunakan Tank,Panser, dengan kekuatan 300 orang dilawan oleh gabungan pasukan Kompi III Bn.III/C, dan Bn.X pimpinan Kapten Rojak, pertempuran dimulai pukul 07.00 pagi hingga pukul 15.00. beberapa diantara senjatanya dapat dirampas seperti bran-gun dan beberapa mortier.
Demikian pengalaman Pak Ahya almarhum bersama sahabat seperjuangannya yang kini tinggalkan nama,semoga segala pengorbanan baik harta, jiwa, kesemuanya mendapatkan pahala dari Allah Subhanahu wa taala.Aamiin. Salam merdeka!”Al-Fatihah.
Hasil catatan Wawancara 15 Agustus 1990 : Ki Kamal bersama Pk Ahya,pk Ganda Sasmita,pk Sugandi selaku Anggota dan Pengurus LVRI Ranting Surade
(Dikutip Oleh Rudy Januar)
Sumber Referensi:
Bapak Kamaludin Kamal Wisa Pranamanggala

